Pemuda Kekuatan Bangsa

Posted on 04/07/2010

0


Oleh: Ust. M. Arifin Ismail, MA.

“Sesungguhnya pemuda itu yang berkata inilah saya, dan bukanlah pemuda itu yang berkata itulah ayah saya.“ (Sayidina Ali bin Abi Thalib).

Dalam pepatah bahasa Arab dinyatakan “ Inna fi yadis syubbani amral ummah, wa fi iqdaamihaa hayaatuha “ yang artinya “ Sesungguhnya di tangan pemuda urusan suatu umat, dan di dalam kemajuan generasi muda terletak kehidupan suatu umat “. Dari bait-bait syair diatas dapat dilihat bahwa pemuda memegang peranan penting dalam kemjuan suatu bangsa.

Jika generasi muda suatu bangsa merupakan generasi muda mempunyai iman yang kokoh, menjalankan agama dengan penuh ketaatan, memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi, berakhlak yang mulia, tidak terpengaruh oleh segala bentuk kemaksiatan hawa nafsu, dan terhindar dari narkoba, kriminalitas, dan tindakan amoral, serta mempunyai keberanian dalam bertindak, kematangan dan kritis dalam berpikir, disamping mempunyai jati diri, sikap hidup yang tidak mudah terpedaya oleh kanan dan kiri, maka dapat dipastikan masyarakat yang memiliki generasi muda seperti itu merupakan masyarakat yang maju dan pemimpin yang dihasilkan oleh masyarakat tersebut akan menjadi pemimpin yang berkualitas.

Tetapi sebaliknya jika generasi muda suatu masyarakat merupakan pemuda yang hidup hanya mengandalkan kekayaan orangtua, atau kehebatan prestasi dan pangkat orangtuanya, mempunyau agama tetapi hanya sebagai simbolik dalam kelahiran, perkawinan dan kematian, tidak memahami ajaran agama apalagi taat dalam amal ibadah, terlebih lagi tidak memiliki keyakinan agama dan iman yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh cerita-cerita takhayul, ramalan, pedukunan, untuk mendapatkan pangkat, kekayaan, jabatan dan lain sebagainya.

Disamping itu mempunyai moral yang rendah, terlibat dalam narkoba, minuman keras, perjudian, pelacuran, perzinaan, dan pergaulan bebas. Tidak memiliki ilmu pengathuan yang mapan walaupun mempunyai segudang title yang kadang-kadang didapat dengan cara yang tidak dapat dipertanggungjawabk an secara akademik, sehingga tidak mempunyai pemikiran yang kritis melihar persoalan bangsa, mudah tergiur dengan kemewahan dunia sehingga terjerumus ke dalam kancah korupsi dan suap. Hidup hanya dengan kemewahan dunia, tanpa pernah melihat kondisi bangsa, maka apakah yang dapat diharapkan oleh generasi muda seperti ini jika menjadi pemimpin masyarakat kelak ? Apakah dapat generasi muda seperti ini membangun dan membawa bangsa dan negara untuk memimpin dunia ? Oleh sebab itu pepatah arab pernah mengatakan : “ Innal faragh wal jidata mafsadatun lil mar’I ayyi mafsadatin “. Yang artinya “ Sesungguhnya kekosongan dan kemewahan akan merusak seseorang itu serusak-rusaknya “. Bayangkan jika generasi muda yang kosong iman, kosong akhlak, kosong jiwa, kosong ilmu, kosong sikap, dan hanya penuh dengan hawanafsu dan kemaksiatan, apakah mereka nanti tidak akan menjadikan bangsa dan negara menjadi negara dan masyarakat yang rusak dan binasa ?

Itulah sejak dini, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata : “ Innal fata man yaquulu haa anadzaa, walaisal fataa man yaquulu kana abi “ yang artinya  “ Sesungguhnya seorang pemuda itu adalah yang berani berkata “inilah diriku “, dan bukanlah seorang pemuda itu yang berkata “ itulah ayahku “. Maksud kata-kata hikmah dari sayyidina Ali bin Abi Thalib ini adalah bahwa seorang pemuda adalah pemuda yang mempunyai jati diri, mempunyai ilmu, mempunyai kepribadian , mempunyai keimanan, mempunyai akhlak mulia, mempunyai pemikiran kritis, sehingga pemuda tadiu berani berkata “ Inilah aku “ .

Bukanlah seorang pemuda yang tidak mempunyai iman, tidak mempunyai kepribadian, tidak mempunyai agama, tidak mempunyai ilmu, tidak berakhlak mulia, tidak mempunyai kemampuan intelektual, sehingga jika dia berhadapan dengan keadaan maka dia akan mengandalkan orangtuanya, memngndalkan orang lain, meminta petunjuk dari orang lain, yang diungkapkan oleh sayyidina Ali dengan kalimat “ Kanaan Abii “., yang hebat itu ayahku, yang hebat dulu generasi dulu, yang bekerja itu ayahku, dan kami ini, anak-anak muda hidup kami hanyalah untuk menikmati kehidupan, menikmati kemewahan, menghabisi kekayaan, dan kami tidak perlu memikirkan bangsa dan masyarakat, sebab hidup kami adalah bagaimana menikmati kemewahan walaupun di bawah penderitaan rakyat dan masyarakat.

Begitu pentingnya peranan generasi muda dalam masyarakat sehingga dalam surah al Kahfi terdapat kisah pemuda yang beriman yang mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran. Di tengah kerusakan akidah , dan akhlak masyarakatnya, dan dibawah kepemimpinan penguasa yang dzalim, ada tujuh orang pemuda yang tetap bertahan dengan akidah dan kebenaran. Pada suatu hari masyarakat sedang merayakan hari keagamaan yang penuh dengan kemusyrikan.

Melihat hal demikian, maka beberapa orang anak muda yang mempunyai iman dan  ilmu pengetahuan, berpikir kritis sehingga mereka merasakan bahwa menyembah berhala merupakan suatu cara hidup yang salah, keluar dari kumpulan masyarakatnya menyendiri di sebuah pohon jauh dari keramaian. Satu-persatu datang ke pohon tersebut, tanpa ada yang memerintah, hanya iman dan ilmu mereka memberikan kesadaran kepada mereka bahwa perbuatan itu tidak benar, sehingga mereka memisahkan diri dari perbuatranh tersebut. Ini merupakan sikap keberanian untuk keluar dari kemusyrikan. Datanglah satu persatu pemuda yang beriman dan berilmu dan punya kepribadian dan kebranian tersebut dudu di bawah pohon, akhirnya mereka saling kenal mengenal, dan ternyata mereka mempunyai sikap dan pendirian yang sama. Akhirnya mereka tujuh orang dengan iman, pendirian dan sikap yang sama walaupun dari berbagai kelompok masyarakat dapat bersatu.

Setelah mereka mendapat informasi bahwa raja yang dzalim akan menghukum rakyat yang tidak menghadiri acara persembahan kepada dewa tersebut, maka mereka bersepakat untuk menyelamatkan diri dan mencari tempat perlindungan. Mereka berlari , sehingga menemukan sebuah gua. Karena penat berlari, dan memerlukan istirahat, maka mereka sepakat untuk bermalam di dalam gua tersebut, sambil mereka berdoa agar Tuhan mereka memberikan petunjuk kepada mereka sehingga mereka dapat selamat dari masyarakat yang rusak dan penguasa yang dzalim.

“Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyi’ lana min amrina rasyada“, ya tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dan sediakanlah petunjuk atas segala urusan kami “. Allah mendengar doa tersebut, dan setelah melihat begitu gigihnya mereka berjuang, dan kuatnya iman serta pendirian mereka, sehingga mereka istiqamah di tengah kemungkaran dan kemusyrikan, maka Allah mengabulkan permohonan mereka dengan memberikan keselamatan kepada mereka melalui tidur sepanjang tiga ratus tahun, sehingga sewaktu mereka bangun, penguasa yang dzalim telah bertukar menjadi penguasa yang beriman.

Sewaktu mereka terbangun, mereka merasa lapar dan haus, sehingga pemimpin kelompok menugaskan salah seorang dari mereka untuk keluar mencari dan membeli makanan dengan nasehat agar berhati-hati jangan sampai tertangkap, sebab mereka merasa pemimpin negara masih seperti dulu. Berangkatlah salah seorang mereka untuk membeli makanan, denganmemamaki uang mereka yang sudah tidak laku lagi, akhirnya peniaga terkejut dengan uang tersebut, sehingga berita sampai kepada raja.

Alhamdulillah ternyata raja yang baik dan beriman, sehingga raja memerintahkan mereka untuk menghadap dengan selamat, dan memuliakan tempat mereka bersembunyi karena keimanan dan mendapat perolongan Tuhan tersebut dibangun lah sebuah tempat ibadah di depan gua tersebut. Bagi masyarakat muslim, agar memperhatikan begitu pentingnya kedudukan pemuda yang beriman dalam suatu masyarakat, maka nabi Muhammad saw menganjurkan agar surah al kahfi dibaca setiap minggu, sehingga setiap minggu anak muda akan berpikir sudahkan kami menjadi ashabul kahfi,  pemuda yang beriman dan berakhlak serta berilmu. Itulah tujuan mengapa cerita pemuda yang beriman dilestarikan dalam surah alkahfi, agar mengetahui bahwa kekuatan masyarakat terletak dalam kekuatan dan kualitas pemuda, dan kualitas pemuda tergantung kepada keimanan, akhlak dan ilmu sehingga jika masyarakat mempunyai pemuda yang seperti itu maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang kuat, tidak mudah dipermaikan oleh bangsa yang lain.Itulah sebabnya cara musuh menghancurkan suatu bangsa adalah dengan menghancurkan identitas keimanan dan kepribadian dan masa depan generasi mudanya. Semoga di bulan sumpah pemuda ini, pemuda kita menjadi “ Ha ana Dza “. Bukan pemuda “ Kanaa Abii “, sebagaimana pemuda ashabul kahfi. Fa’tabiru Ya Ulil albab.( Muhammad Arifin Ismail, Kuala Lumpur, 28 oktober 2009 )

Advertisements